Tim Yang Solid

22 10 2009

Tidak mudah untuk menghadapi perubahan, tidak semua orang benar-benar siap menghadapinya. Belakangan, hari-hariku berjalan ketika proses roda kehidupan dimulai berputar. Bila kemarin aku berada di atas angin, kali ini aku harus merangkak dari bawah agar jari-jari roda kehidupan dapat bergerak menuju atas. Bunga mekar pada waktunya, dan telur menetas ketika saatnya tiba. Aku percaya bahwa Tuhan adalah maha pencipta momen yang paling sempurna sebab semua telah diatur dari singgasanaNya.

Di saat-saat seperti ini, kupandang lembut wajah Michiru yang senantiasa mendampingi di setiap langkahku. Dirinya masih tetap sama, anggun dan cantik. Aku memandanginya berkali-kali, lalu tersenyum balik ketika matanya balas menelanjangi tatapanku. Sekian lama diri ini tersadar kembali, ternyata aku benar-benar menyayanginya, sangat mencintainya. Sekiranya kata sayang dan cinta itu tak berwujud membosankan bila diucapkan berkali-kali, maka tak akan lelah lidah mengucap *I love you* di setiap detiknya. Namun, kalimat itu kini terasa begitu sakral bila diucapkan sekarang. Entahlah, sepertinya momen pengucapan itu gak bisa dilakukan di sembarang masa. Sebab, ada waktu-waktu spesial yang membuat kalimat itu begitu khidmat bila diucapkan.

Tiba-tiba, aku jadi teringat, di awal-awal berpacaran dulu. Semudah membalik telapak tangan mengucap *I love you* dengan Michiru. Sampai-sampai, Michiru jengah sendiri mendengar ucapanku sambil balik membalas *beb, aku tuh ya,,, belum kenal-kenal banget sama kamu*… Hah??? Ucapan seromantis itu dibalas seadanya tanpa label mesra sama Michiru. Hohohoho, begitulah kekasihku, tanpa basa-basi. Tetapi entah, sepertinya, aku benar-benar jatuh cinta lagi padanya, saat ini…saat problema hidup dan berbagai kesulitan mulai menantang untuk dilewati. Saat tangannya menggenggam erat tanganku lalu berbisik ke telingaku, *jangan menyerah, sayang*. Berjalanlah diriku disebelahnya, menghadapi setiap wujud perubahan yang ada, penuh batu kerikil dan kubangan lumpur, namun genggaman erat kekasih tetap kokoh menegakkan langkahku. Kebersamaan ibaratnya sebuah tim, tim yang sangat solid, tim yang sangat kompak. Karenanya, ketika salah satunya tersungkur dan terjatuh, maka yang satunya lagi akan datang memapah dan membantu. Dia tutupi kelemahanku, kuakui kelebihannya. Kekasihku, sahabatku, timku, separuh nafasku.

Terima kasih, sayang. Terima kasih, cinta.

@Arie Gere, Di depan Compaq.

Aku dan kamu, adalah tim yang kompak.

Susah dan senang, tetap menjadi sebuah tim.





Di atas lapisan kesulitan

1 10 2009

Hari ini, adalah hari pertamaku bebas tanpa ikatan dari sebuah lembaga pekerjaan. Sudah usai jalan-jalan jauh menggunakan fasilitas kantor lamaku, sudah usai semuanya. Sekarang, saatnya berbenah untuk kehidupan sendiri, dan bersiap menghadapi masa depan apa yang akan terjadi nantinya. Aku gak bisa menerka apa yang akan terjadi, semuanya berpasrah di tangan Tuhan Yang Paling Kupercaya. Kalau hari ini aku kehilangan pekerjaanku, semoga esok harinya aku tidak kehilangan cintaku.  Jadi teringat lagu D’ Massiv – Jangan Menyerah… Lagi-lagi lagu ini menjadi soundtrack kehidupan yang paling pas buat menyemangati hari-hariku. Ah, kenapa harus menyerah? Bersyukurlah karna masih diberikan nafas dan kehidupan. Begitu banyak saudara-saudara kita yang kehilangan harta, nyawa orang-orang yang dicintainya, bahkan segalanya yang ia punyai, ludes seketika ditelan gempa yang maha dashyat.

Sehari sebelum tulisan ini kubuat, hatiku masih sangkut dengan kesedihan menuju detik-detik terakhir memandangi suasana kantor lamaku yang penuh dengan kekeluargaan.Tiba-tiba, rekan kerjaku berteriak tenang disebelahku,

“Gempa’’

Semua orang menjadi panik, termasuk aku, salah satunya yang paling panik. Gimana mau gak panik, kami sedang sibuk-sibuknya tawar menawar harga dalam acara pelelangan perabotan kantor. Ditambah lagi, aku, sang ketua pelelangan, ternyata malah yang paling panik di antara semuanya. Buru-buru kututup laptopku, kumasukin ke dalam tas, dan kubawa kemana-mana. Tujuan orang kebanyakan berada pada dua  titik, di dekat lift atau terpaksa turun ke luar gedung. Rekan-rekan kantor memilih berlindung di dekat lift sambil sibuk menelepon anggota keluarga lain yang berada di rumah. Sesaat, aku langsung menelpon Michiru yang sedang berada entah dimana. Yang ditelepon malah bilang kalau dia gak kerasa gempa sama sekali, aneh banget kan? Trus aku langsung nyadar ‘’Oh iya, aku lagi di level 5, Michi-kan lagi di jalan raya, yah mana kerasa’’. Beberapa saat setelah momen-momen panik itu, beberapa teman langsung sibuk mengupdate status di facebook… (*Halah, sempat-sempatnya gitu loh!). Rekan di sebelahku langsung membuka situs berita dan ternyata, Sumatera Barat yang sedang diguncang kekuatan 7,6 SR. Allahuakbar! Beberapa jam berikutnya, berbagai acara televisi mulai memberitakan jumlah korban berjatuhan yang terdeteksi oleh tim SAR sejumlah 75 orang, lalu meningkat jumlahnya menjadi ratusan keesokan harinya. Itu adalah jumlah korban yang masih kasat mata terdeteksi, bayangkan saudara-saudara kita yang mungkin masih tertimbun di dalam reruntuhan gempa dan sedang menunggu pertolongan dari kita. Ah, ternyata betapa mininya dunia ini ditanganNya, sedikit kocokan saja sudah membuat segalanya hancur berantakan.

Malamnya, tiba-tiba lagi, aku teringat pada salah seorang sahabat yang menjadi penulis kolom di SepociKopi. Kemarin, aku belum tahu gimana kabarnya karena beberapa kali aku gagal menghubungi nomor handphonenya. Sahabat ini sering mondar-mandir berada di wilayah Sumatera Barat. Barusan sesaat tulisan ini dibuat, sahabat yang lain mengabarkan bahwa sahabat kita ini selamat dari bencana gempa dan mudah-mudahan dalam keadaaan baik-baik saja. Hanya saja, rumahnya hancur (?). Syukur kepada Tuhan, meskipun aku belum bisa menghubunginya lagi sampai tulisan ini kubuat. Kudoakan semoga sahabat dan keluarganya terus dilindungi Tuhan Yang Maha Kuasa. Amien.

@Arie Gere, October  1, 2009.

Di atas langit masih ada langit. Di atas kesulitan masih banyak lagi kesulitan lainnya.

Bukan masalahmu yang paling berat di dunia ini.





Bimbang

26 09 2009

Suatu ketika kekasihku bertanya padaku, ‘’Hubungan kita akan terus begini-begini saja. Kamu tidak bosan?’’

Pertanyaan kekasihku wajar, apakah tidak ada kebosanan menjalani hubungan yang tak jelas juntrungannya dan entah akan dibawa kemana. Ke lembaga perkawinan jelas tidak mungkin, bila aku dan kekasih tetap berdiam di negeri ini sampai ajal menjelang. Ke mana lagi? Ke kolong jembatan, ke kolong tempat tidur, atau ke kolong bumi mana lagi?. Begitupun, tak ada jawaban yang pas berani keluar dari mulutku menanggapi pertanyaan kekasih. Sudah lewat tahun-tahun rayuan gombal buat kami. Masing-masing sudah tahu apa yang akan dihadapi, dan apa yang terbaik buat kehidupannya. Janji-janji manis yang terasa sukar untuk ditepati tak akan pernah lagi dilontarkan oleh masing-masing kami. Bukan berarti kami berdua tidak punya impian akan masa depan yang indah, hanya saja, hubungan ini menjadi lebih realistis dan tidak penuh basa-basi maupun teka-teki.   Maka kukembalikan pertanyaan lagi padanya, ‘’Kamu mau hubungan kita ini seperti apa?’’.  Kekasihku terdiam, dan aku apalagi, terpaksa ikutan diam.

Berdua kami mengenggam, menatap masa depan yang kabur dan buram. Sesekali genggaman itu hampir lepas penuh dengan kebosanan, namun tak jarang menguat lagi. Lagi-lagi, kami bergandengan di bawah anak tangga masa depan, sambil menunggu yang buram ini menjadi terang. Tak tahu, entah sampai kapan.

@Arie Gere, Meja Orens, Sept 26 2009.

Ketika berselisih paham untuk yang kesekian kalinya,

Ketika bermaafan untuk entah yang keberapa kalinya.

Bimbang itu ada, namun munculnya harus tetap diredam.





Tirai Transparan

6 09 2009

Dua tahun lebih aku mengenalnya, sebegitu juga aku mencintainya.  Satu kata, melayang. Aku benar-benar melayang ketika berada di sampingnya. Melayang yang bahagia. Entahlah, cinta ini seperti melayang. Langkahku berjingkat-jingkat naik menuju tingkatan layangan yang aku sendiri tak tahu akan berhenti di tingkat berapa. Seperti terbang ke angkasa lalu terpuaskan dengan segenap perasaan bahagia dan datang silih berganti dengan perasaaan suka namun sulit dijelaskan dengan sebuah rangkaian kata. Pernah menonton televisi berjam-jam sampai lupa makan, minum bahkan lupa berkedip? Terbius dengan acara tivi yang menyulapmu tak tersadar seketika sekaligus menjadikanmu pengangum tunggal sang televisi? Seperti aku terbius menonton televisi, seperti itulah aku terbius menatap wajahnya.

Bagaimana aku merasakannya, sukar untuk menjelaskannya. Aku adalah pengangum tunggal gadisku. Aku memandangi wajahnya terus-menerus selama berjam-jam. Menontonnya melakukan berbagai aktivitas yang membuat dirinya begitu sibuk dihadapanku. Mulai dari menyalakan komputer, kemudian chat dengan teman-temannya, dilanjutkan dengan bermain game berjam-jam lamanya di depan monitor tersayangnya. Dia dengan dunianya, dan aku dengan duniaku. Duniaku dan dunianya hanya terpisahkan oleh selembar tirai transparan yang tak bernama. Kapanpun aku mau, aku bisa dengan leluasa membuka tirai yang menghalangi pandanganku terhadapnya. Membuka saja, tanpa menjelajahi lebih dalam. Sebaliknya, tirai di duniaku juga bisa dijamahnya kapan saja dia mau. Akupun mulai puas bermain dengan tirai transparan ini. Aku bisa menonton wajahnya berjam-jam dari balik tirai bening ini. Sesekali aku menggodanya, dan diapun menjulurkan lidahnya yang nakal untuk mengejekku. Sesekali dipintanya aku menembus tirai transparan yang membatasi kami, agar aku dengan leluasa menggerakkan jari-jariku memijati tubuhnya yang kelelahan. Sekali lagi, dia dengan dunianya, dan aku dengan duniaku. Lagi, sesekali dia memintaku untuk mengangkat deringan telpon yang tak ingin diraihnya sama sekali. Aku masuk ke dunianya, dan dia memasuki duniaku.

Tetapi, lama-lama tak cukup hanya sesekali saja. Berkali-kali dengan ratusan maaf aku sering menjelajahi wilayah dunianya yang sebenarnya tak boleh kujamah tanpa seizinnnya. Aku kebablasan menjelajahi zona pribadinya, padahal aku tahu wilayah itu hanya boleh dibuka, namun belum tentu bisa kujelajahi tanpa seizinnnya. Berkali-kali aku menyusup ke dalam pikirannya, dan seolah ingin membongkar apa saja yang ada dalam tempurung otaknya, dan nama siapa saja yang selalu berputar-putar mengelilingi tempurung kepalanya itu. Berkali-kali juga aku ditegur oleh gadisku itu, karna memasuki wilayah yang seharusnya tak boleh kumasuki. Berkali-kali aku menyadari kesalahanku, berkali-kali pulalah gadisku memaafkanku. Aku tahu, tirai transparan itu seharusnya melekat di tubuh masing-masing. Ketika tiraiku melekat dengan tirai transparan miliknya, itulah momen lekatan yang akan kami ingat sepanjang masa. Aku akan dengan bebas membuang tirai miliknya ke lautan, dan gadisku pun sesukanya membuang tirai milikku ke dalam tong sampah jalanan. Sampai aku dan gadisku, tak terpisahkan oleh apapun. Tanpa sehelai benang, tanpa secarik tirai. Karna tirai ini, meskipun transparan, namun tak selalu bening dipandang olehku.

‘’Tirai ini harus tetap ada’’ pinta gadisku kepadaku.

‘’Transparan tetapi tak bening’’ jawabku.

‘’Kau akan bisa menembus tirai ini tanpa menyobeknya sedikitpun’’ katanya lagi.

‘’Bagaimana caranya’’ tanyaku dengan bodoh.

‘’Tembus dengan rasa percayamu terhadap diriku. Maka yang tak kau lihat bening, nanti akan berubah wujud menjadi apapun yang kau maui, bahkan sirna sama sekali’’

Mulutku berkata, ‘’Aku sulit melakukannya’’. Tetapi aku diam, karna ucapan itu adalah doa. Jadi, aku takut mengucapkannya. Dan perbuatan itu biasanya linear dengan apa yang dipikirkan. Aneh sekali, karna aku masih tetap memikirkan akan sulit melakukannya. Kucium lengan gadisku dengan lembut, kurasakan kulitnya yang kedinginan kena hembusan angin malam. Kupeluk tubuhnya sampai lengket dengan kulitku sendiri. Sesekali kusobek tirai transparan yang menghalangi sentuhan-sentuhanku ke kulitnya. Namun tetap seperti itu, gadisku terkadang membuka tirai miliknya kepadaku, sesekali menghendaki agar tirai itu tetap tertutup apa adanya.

 

@Arie Gere, 2009.

Dua makhluk, dua pikiran, dua jiwa, dua badan.

Tidak segampang itu menyatukan semuanya sekaligus.

Tirai transparan itu selalu ada.