Tidak mudah untuk menghadapi perubahan, tidak semua orang benar-benar siap menghadapinya. Belakangan, hari-hariku berjalan ketika proses roda kehidupan dimulai berputar. Bila kemarin aku berada di atas angin, kali ini aku harus merangkak dari bawah agar jari-jari roda kehidupan dapat bergerak menuju atas. Bunga mekar pada waktunya, dan telur menetas ketika saatnya tiba. Aku percaya bahwa Tuhan adalah maha pencipta momen yang paling sempurna sebab semua telah diatur dari singgasanaNya.
Di saat-saat seperti ini, kupandang lembut wajah Michiru yang senantiasa mendampingi di setiap langkahku. Dirinya masih tetap sama, anggun dan cantik. Aku memandanginya berkali-kali, lalu tersenyum balik ketika matanya balas menelanjangi tatapanku. Sekian lama diri ini tersadar kembali, ternyata aku benar-benar menyayanginya, sangat mencintainya. Sekiranya kata sayang dan cinta itu tak berwujud membosankan bila diucapkan berkali-kali, maka tak akan lelah lidah mengucap *I love you* di setiap detiknya. Namun, kalimat itu kini terasa begitu sakral bila diucapkan sekarang. Entahlah, sepertinya momen pengucapan itu gak bisa dilakukan di sembarang masa. Sebab, ada waktu-waktu spesial yang membuat kalimat itu begitu khidmat bila diucapkan.
Tiba-tiba, aku jadi teringat, di awal-awal berpacaran dulu. Semudah membalik telapak tangan mengucap *I love you* dengan Michiru. Sampai-sampai, Michiru jengah sendiri mendengar ucapanku sambil balik membalas *beb, aku tuh ya,,, belum kenal-kenal banget sama kamu*… Hah??? Ucapan seromantis itu dibalas seadanya tanpa label mesra sama Michiru. Hohohoho, begitulah kekasihku, tanpa basa-basi. Tetapi entah, sepertinya, aku benar-benar jatuh cinta lagi padanya, saat ini…saat problema hidup dan berbagai kesulitan mulai menantang untuk dilewati. Saat tangannya menggenggam erat tanganku lalu berbisik ke telingaku, *jangan menyerah, sayang*. Berjalanlah diriku disebelahnya, menghadapi setiap wujud perubahan yang ada, penuh batu kerikil dan kubangan lumpur, namun genggaman erat kekasih tetap kokoh menegakkan langkahku. Kebersamaan ibaratnya sebuah tim, tim yang sangat solid, tim yang sangat kompak. Karenanya, ketika salah satunya tersungkur dan terjatuh, maka yang satunya lagi akan datang memapah dan membantu. Dia tutupi kelemahanku, kuakui kelebihannya. Kekasihku, sahabatku, timku, separuh nafasku.
Terima kasih, sayang. Terima kasih, cinta.
@Arie Gere, Di depan Compaq.
Aku dan kamu, adalah tim yang kompak.
Susah dan senang, tetap menjadi sebuah tim.
Komen yang seliweran!