Si Netron!

9 12 2009

Keluarga besarku sebahagian merupakan representasi orang-orang ‘besar’ di kotaku. Ember, orang-orang gede!. Eitss, jangan salah sangka dulu, ini bukannya mau nyombong sama sekali. Enggak! Aku cuma mau bilang, sebahagian dari mereka emang orang pembesar, tapi ternyata cetek alias kecil alias picik kalau ngomongin tentang kebebasan.

Hohohoh, kali ini bukan membahas tentang kebebasan menentukan pilihan hidup, meski itu termasuk salah satu poin ‘cetek’ yang benar-benar memuakkan. Ini tentang kebebasan memilih saluran televisi! Bayangkan sodara-sodari sekalian, kebebasan dalam memilih channel tv!

Cuih, cuih, cuih!. Aku baru tahu kalo ternyata sebagian sodara sepupu ku dan keponakanku (terutama yang masih SMP atau SMA), dilarang menonton SINETRON di teve! Whattttttt??? Oh, No. Bayangkan, nggak diperbolehkan nonton sinetron apapun oleh orang tuanya. SINETRON APAPUN. Bolehnya, cuma berita, kuis, acara musik, film, gossip sekali-sekali boleh, tapi engga buat SINETRON. Wadao, plis deh! Hare Gene masih di kekang memilih saluran di televisi??

Alasannya sih ‘cetek’ juga. Sinetron dituding mengandung unsur-unsur yang sama sekali nggak baik dan nggak mendidik. Sinetron banyak mengandung kekerasan fisik dan psikis. Sinetron umumnya bertemakan cinta lebay yang gak penting buat dilihat anak SMP atau SMA. Sinetron mempertontonkan adegan-adegan mesra yang gak cocok di konsumsi anak sekolahan. Satu lagi tentu, sinetron mengganggu waktu jam belajar anak sekolahan. (Jam utamanya kan jam 7-9, yang tentu aja menjadi jam wajib belajar buat anak sekolahan. Thanks God, I’ ve passed those crazy times!)

‘Cetek’, pokoknya ‘cetek’. Emang sih, alasan-alasannya ada benarnya juga, tp plis deh, gak semua sinetron gitu kan? Lagian, kalau emang anaknya memang anak sekolahan yang berkualitas, pasti bisa milah-milah mana yang baik dan yang buruk, mana sinetron yang ganggu jam pelajaran atau nggak. Lebay, lebay, lebay ah! Gak semuanya sinetron itu beraura negatif!

Kok aku ngamuk-ngamuk sendiri ya? Secara yang dilarang itu bukan aku. Hehehehe. Gimana mau gak marah. Naluri persinetronanku sudah terusik! Terjajah! Hiks, gak rela, pokoknya gak rela!. Terus, solusinya apa dong? Yah gak ada, emang aku bisa apa marah balik sama ortu-ortu nya mereka? Yah gak dong, bisa-bisa malah aku yang dicekek (cekik?) sampe tak berkutik. Apa urusanku ngelarang-larang ortunya membatasi tontonan anak mereka? Gak sih, emang bukan urusanku sama sekali. Tetapi, kan sayang gitu loh, andai salah satu dari mereka emang pengen menjadi penerus ‘’Raam PunJadi’’, bisa flamboyan tuh impian di awang-awang. T_T. Hiks. Lebay lagi deh eike.

Intinya, ‘’Hargai dong Kebebasan orang lain Menentukan Pilihan, meskipun anak sendiri’’. Serasa orasi kalau ngomong beginian. Btw, sikap keluarga besarku yang ngelarang anaknya nonton sinetron, kok mirip-mirip dengan pernyataan sikap TNI yang mendukung pelarangan film BALIBO 5 ya??. Hm………

@ Arie Gere, Dec 8, 2009.
Abis nonton BCL. Bayu Cinta Luna. Berharap judulnya berubah menjadi BCA. Bunga Cinta Arie. Wkwkwkwkwkwkwkw.





Mediasi Teh Manis

14 11 2009

Saya adalah pecinta kopi, sejak dari dulu sampai dengan sekarang. Saya adalah penggemar berat kopi kampung, dulu,. Sayangnya, sekarang saya benar-benar tidak bisa menikmati aroma kopi bercokol di dalam mulut saya. Alasannya kenapa? Sederhana, saya punya penyakit lambung yang cukup mengganggu. Sekali saja kena muntahan kopi, lambung saya bakal berteriak-teriak penuh sumpah serapah sambil melontarkan balikkan racikan asam beserta turunannya ke permukaan bumi. Sungguh malang, saya hanyalah pecinta yang tak bisa memilki. Samar-samar kok saya seperti mendengar mulut pembaca yang komat-kamit, ”Lesbian banget sih kata-kata nya?????”

Disamping itu, saya cukup menyenangi teh. Yang manis, tentunya. Pisang goreng dengan secangkir teh manis panas. Yup, teh manis panas, bukan yang hangat. Saya suka sekali menghirup aromanya, ketika hawa panasnya lengket di hidung saya. Harumnya seolah membawa saya jauh ke deretan kebun teh di daerah pegunungan. Sedikit lebay, sih… ^_^.. Setiap pagi, teh manis lah yang menyegarkan tubuh saya, dialah yang memberikan kekuatan baru di setiap langkah saya. Jadi, kalau saya bertamu ke rumah siapapun juga, dan saya ditawarkan sang tuan rumah dengan teh manis panas, atau teh manis dingin, maka sudah sangat sangat cukup untuk menemani obrolan-obrolan saya. Hm, kalau di Jakarta namanya es teh manis kan? Kalau di kota saya sih, namanya berubah menjadi teh mandi, alias teh manis dingin.

Jadi, singkat kata dan singkat cerita. Sebenarnya, saya habis meminum teh manis banyak-banyak malam ini. Seberapa banyak? Baiklah, dimulai dari sebotol teh sosro dingin, saat saya jogging sore sendirian. Mengapa sendirian? Nanti saya kasih tahu kenapa. Lalu, adegannya berlanjut ketika saya ‘berhasil’ mengajak Michiru makan nasi goreng kesukaannya. Ada apa dengan tanda kutip pada kata berhasil? Teruskan saja membaca kalau memang masih berminat. Kemudian, saya pesan secangkir besar teh manis panas untuk menemani suguhan nasi goreng di hadapan saya. Ternyata, karena belum makan siang dan langsung makan malam, perut saya meronta-ronta sambil menolak nasi goreng yang super duper enaknya itu. Kontan, teh manis panaspun habis seketika. Merasa masih kurang dengan isian perut, saya pesan lagi secangkir besar teh manis dingin sebagai hidangan penutup, sementara hidangan utama alias nasi goreng, malah gagal saya habiskan. Bila ditinjau ulang, saya baru saja meminum kurang lebih 3 cangkir besar teh manis pekat, dalam waktu yang hampir bersamaan.

Puyeng membaca penjelasan ‘teh’ saya? Apalagi saya yang meminumnya.

Menjelang tidur, mata saya benar-benar gak bisa diajak kompromi. Maunya melek terus, padahal badan rasanya sudah loyo dan tak kuat lagi. Tetapi dasar, otak dan mata sepertinya ingin menghancurkan reputasi tidur cepat saya kali ini. Beginilah jadinya, saya harus memposting tulisan ini malam-malam buta, atau tepatnya pagi-pagi buta. Oke, ada pertanyaan? Sepertinya ada yang tunjuk tangan kebingungan kenapa saya harus meminum teh sebanyak itu. Baiklah saya jawab. Pertama, saya sama sekali bukan peminum alkohol ketika sedang dilanda suatu masalah, makanya saya lebih memilih teh manis daripada mabuk kepayang di awing-awang. Hmm, sepertinya saya menyebut masalah? Ya ya ya, masalahnya tadi adalah saya abis berantem sama Michiru.

Cukup??? Hah, saya capek, abis berantem. Jiwa raga saya lelah, abis berantem. Salah siapa? Salah saya. Sudah baikan?? Hmmmmm, mau tau jawabannya????? Okeh,,, mediasi teh manis berjalan cukup lancar, ditambah lagi, racikan yang namanya CINTA itu gak bisa dibohongi. I love her, and she loves me. Kasus ditutup, ditutup, ditutup, ditutup, ditutup, ditutup!. Eh, hampir lupa ketuk palu.. DITUTUP!. Sah!…

Saturday, Nov 14, 2009, 00:23
Thank you, hasian.
I’ll never forget this moment.
I love you…

NB : Ketika menyelesaikan tulisan ini, pemimpin keratuan SepociKopi menghadiahi saya dengan status jadi-jadiannya, ‘’Kuntilanak tidak menemaniku, ia ada disebelahmu malam ini. Coba rasakan napasnya ditengkuk, berbaringlah ke kiri, ia di kananmu’’. Dan saya rasa, saya benar-benar tidak bisa tidur malam ini.





Tim Yang Solid

22 10 2009

Tidak mudah untuk menghadapi perubahan, tidak semua orang benar-benar siap menghadapinya. Belakangan, hari-hariku berjalan ketika proses roda kehidupan dimulai berputar. Bila kemarin aku berada di atas angin, kali ini aku harus merangkak dari bawah agar jari-jari roda kehidupan dapat bergerak menuju atas. Bunga mekar pada waktunya, dan telur menetas ketika saatnya tiba. Aku percaya bahwa Tuhan adalah maha pencipta momen yang paling sempurna sebab semua telah diatur dari singgasanaNya.

Di saat-saat seperti ini, kupandang lembut wajah Michiru yang senantiasa mendampingi di setiap langkahku. Dirinya masih tetap sama, anggun dan cantik. Aku memandanginya berkali-kali, lalu tersenyum balik ketika matanya balas menelanjangi tatapanku. Sekian lama diri ini tersadar kembali, ternyata aku benar-benar menyayanginya, sangat mencintainya. Sekiranya kata sayang dan cinta itu tak berwujud membosankan bila diucapkan berkali-kali, maka tak akan lelah lidah mengucap *I love you* di setiap detiknya. Namun, kalimat itu kini terasa begitu sakral bila diucapkan sekarang. Entahlah, sepertinya momen pengucapan itu gak bisa dilakukan di sembarang masa. Sebab, ada waktu-waktu spesial yang membuat kalimat itu begitu khidmat bila diucapkan.

Tiba-tiba, aku jadi teringat, di awal-awal berpacaran dulu. Semudah membalik telapak tangan mengucap *I love you* dengan Michiru. Sampai-sampai, Michiru jengah sendiri mendengar ucapanku sambil balik membalas *beb, aku tuh ya,,, belum kenal-kenal banget sama kamu*… Hah??? Ucapan seromantis itu dibalas seadanya tanpa label mesra sama Michiru. Hohohoho, begitulah kekasihku, tanpa basa-basi. Tetapi entah, sepertinya, aku benar-benar jatuh cinta lagi padanya, saat ini…saat problema hidup dan berbagai kesulitan mulai menantang untuk dilewati. Saat tangannya menggenggam erat tanganku lalu berbisik ke telingaku, *jangan menyerah, sayang*. Berjalanlah diriku disebelahnya, menghadapi setiap wujud perubahan yang ada, penuh batu kerikil dan kubangan lumpur, namun genggaman erat kekasih tetap kokoh menegakkan langkahku. Kebersamaan ibaratnya sebuah tim, tim yang sangat solid, tim yang sangat kompak. Karenanya, ketika salah satunya tersungkur dan terjatuh, maka yang satunya lagi akan datang memapah dan membantu. Dia tutupi kelemahanku, kuakui kelebihannya. Kekasihku, sahabatku, timku, separuh nafasku.

Terima kasih, sayang. Terima kasih, cinta.

@Arie Gere, Di depan Compaq.

Aku dan kamu, adalah tim yang kompak.

Susah dan senang, tetap menjadi sebuah tim.





Di atas lapisan kesulitan

1 10 2009

Hari ini, adalah hari pertamaku bebas tanpa ikatan dari sebuah lembaga pekerjaan. Sudah usai jalan-jalan jauh menggunakan fasilitas kantor lamaku, sudah usai semuanya. Sekarang, saatnya berbenah untuk kehidupan sendiri, dan bersiap menghadapi masa depan apa yang akan terjadi nantinya. Aku gak bisa menerka apa yang akan terjadi, semuanya berpasrah di tangan Tuhan Yang Paling Kupercaya. Kalau hari ini aku kehilangan pekerjaanku, semoga esok harinya aku tidak kehilangan cintaku.  Jadi teringat lagu D’ Massiv – Jangan Menyerah… Lagi-lagi lagu ini menjadi soundtrack kehidupan yang paling pas buat menyemangati hari-hariku. Ah, kenapa harus menyerah? Bersyukurlah karna masih diberikan nafas dan kehidupan. Begitu banyak saudara-saudara kita yang kehilangan harta, nyawa orang-orang yang dicintainya, bahkan segalanya yang ia punyai, ludes seketika ditelan gempa yang maha dashyat.

Sehari sebelum tulisan ini kubuat, hatiku masih sangkut dengan kesedihan menuju detik-detik terakhir memandangi suasana kantor lamaku yang penuh dengan kekeluargaan.Tiba-tiba, rekan kerjaku berteriak tenang disebelahku,

“Gempa’’

Semua orang menjadi panik, termasuk aku, salah satunya yang paling panik. Gimana mau gak panik, kami sedang sibuk-sibuknya tawar menawar harga dalam acara pelelangan perabotan kantor. Ditambah lagi, aku, sang ketua pelelangan, ternyata malah yang paling panik di antara semuanya. Buru-buru kututup laptopku, kumasukin ke dalam tas, dan kubawa kemana-mana. Tujuan orang kebanyakan berada pada dua  titik, di dekat lift atau terpaksa turun ke luar gedung. Rekan-rekan kantor memilih berlindung di dekat lift sambil sibuk menelepon anggota keluarga lain yang berada di rumah. Sesaat, aku langsung menelpon Michiru yang sedang berada entah dimana. Yang ditelepon malah bilang kalau dia gak kerasa gempa sama sekali, aneh banget kan? Trus aku langsung nyadar ‘’Oh iya, aku lagi di level 5, Michi-kan lagi di jalan raya, yah mana kerasa’’. Beberapa saat setelah momen-momen panik itu, beberapa teman langsung sibuk mengupdate status di facebook… (*Halah, sempat-sempatnya gitu loh!). Rekan di sebelahku langsung membuka situs berita dan ternyata, Sumatera Barat yang sedang diguncang kekuatan 7,6 SR. Allahuakbar! Beberapa jam berikutnya, berbagai acara televisi mulai memberitakan jumlah korban berjatuhan yang terdeteksi oleh tim SAR sejumlah 75 orang, lalu meningkat jumlahnya menjadi ratusan keesokan harinya. Itu adalah jumlah korban yang masih kasat mata terdeteksi, bayangkan saudara-saudara kita yang mungkin masih tertimbun di dalam reruntuhan gempa dan sedang menunggu pertolongan dari kita. Ah, ternyata betapa mininya dunia ini ditanganNya, sedikit kocokan saja sudah membuat segalanya hancur berantakan.

Malamnya, tiba-tiba lagi, aku teringat pada salah seorang sahabat yang menjadi penulis kolom di SepociKopi. Kemarin, aku belum tahu gimana kabarnya karena beberapa kali aku gagal menghubungi nomor handphonenya. Sahabat ini sering mondar-mandir berada di wilayah Sumatera Barat. Barusan sesaat tulisan ini dibuat, sahabat yang lain mengabarkan bahwa sahabat kita ini selamat dari bencana gempa dan mudah-mudahan dalam keadaaan baik-baik saja. Hanya saja, rumahnya hancur (?). Syukur kepada Tuhan, meskipun aku belum bisa menghubunginya lagi sampai tulisan ini kubuat. Kudoakan semoga sahabat dan keluarganya terus dilindungi Tuhan Yang Maha Kuasa. Amien.

@Arie Gere, October  1, 2009.

Di atas langit masih ada langit. Di atas kesulitan masih banyak lagi kesulitan lainnya.

Bukan masalahmu yang paling berat di dunia ini.