Di dalam kehidupan heteroku, aku memiliki dua orang sahabat terbaik, mungkin akan menjadi terbaik di sepanjang hidupku. Cinta, mungkin bahasanya demikian lebih tepat. Sesama kami, ada cinta yang mengikat, ada kasih yang membentang, seperti ada ikatan yang tak terlihat. Mini dan Gede, kira-kira sebutannya begitu ya. Ah, kali ini, mari kuperkenalkan mereka.
Mini adalah perempuan seumuranku, sedikit lebih pendek dariku, mengenakan jilbab manis dan gaul, cantik, luwes, pintar, memiliki pekerjaan di sebuah instansi bergengsi, tetapi masih bergumul dengan jodoh yang belum kunjung ditemuinya sampai sekarang. Dia adalah, orang pertama yang kuceritakan tentang kelesbiananku. Aku mengenalnya, pertama sekali di sudut bangku kuliah, dan seperti ada “klik’’ di antara kami. Dia adalah, orang pertama yang berhasil membuatku memutuskan tali kasih dengan seorang perempuan pada saat itu. Dia adalah, yang selalu mengingatkanku, agar aku kembali kepada kodratnya seorang perempuan. Dia adalah, sahabat terbaikku.
Nah, sekarang, mari kita bicarakan tentang Gede.
Gede adalah lelaki gagah dan perkasa, berjanggut, mempunyai otot-otot besar, tergila-gila pada olahraga tenis dan Timur Tengah, ganteng, dan memiliki masalah yang hampir sama dengan Mini, tak punya pacar bukan karena tak mau, tetapi karena dirasa belum ada yang pas di hatinya. Dia adalah senior kami saat kuliahan dulu, sekaligus menjadi senior di kantor pertama kami dulu. Kami bertiga, tumbuh di kampus yang sama dan di kantor yang sama, bertahun-tahun lamanya. Bersamanya, aku menemukan kegilaan-kegilaan yang pas, pembicaraan-pembicaraan ringan namun hangat, dan sesekali diiringi dengan debat kusir yang tak berkesudahan. He is my baby boy. Sepertinya bukan hanya aku, karena Mini juga merasakan kenyamanan yang mirip dengan yang apa yang kurasa. Entah tahu atau tidak mengenai kelesbiananku, Gede hampir tak pernah bertanya dan tak perduli, atau memang merasa ‘ya sudahlah’.
Aku selalu merasakan, aku nyaman berada di antara mereka, dan aku yakin, pasti juga sebaliknya. Dalam kediaman dan dengan aktivitas masing-masing, kami menemukan kebersamaan. Mungkin, itulah esensi dari sebuah kenyamanan. Mini bermain dengan handphone-nya, Gede sibuk dengan skor tenis disitus kesayangannya sambil sesekali chat dengan mantan-mantannya, lalu aku, sibuk dengan remote teve demi estafet chanel yang tanpa henti. Hobiku tentu saja, 3 menit sekali mengganti channel teve karena tak pernah terfokus pada satu saluran saja, aha, apa ini salah satu cirri-ciri sang buaya? Hehehehe ;p. Terkadang, tak perlu ada topik serius untuk dibicarakan, tak perlu ada alasan kenapa harus bertemu, tak perlu ada momen spesial kenapa harus bersama di tempat yang sama. Tak ada hobi yang benar-benar sama, kecuali bercakap dan berjalan-jalan, selebihnya berbeda. Lalu kami, hanya berkumpul dan bertiga.
Malam kemarin, entah apa yang sedang ada di benak sahabat perempuanku, dia lantas berkata,
‘’Aku selalu membayangkan, apa jadinya kalau kita hidup bersama, serumah bertiga’’.
Dan, keheninganpun terjadi sesaat.
Dalam tatapan cuek skor tenisnya, aku tahu Gede sebenarnya mendengar, namun tidak merespon.
Aku yang merespon duluan kepada Mini, ‘’Yang pasti adalah, kamu yang akan selalu mengerjakan pekerjaan rumah tangga’’. Gede nyengir lalu ketawa, masih sibuk dengan skor tenisnya.
Pertanyaan konyol, tapi bermakna dalam. Yah, apa jadinya kalau itu benar-benar terjadi? Sejauh ini, tak ada hasrat seksual yang mencuat di antara kami, baik aku ke Mini apalagi ke Gede. Sesama kami bertiga selalu yakin, ini adalah murni persahabatan, tak akan nada titik yang menodainya.
Sepulangnya, aku iseng sms sahabat baikku itu,
“Kalau kau yang jadi istri pertamanya, jadikan aku istri keduanya. Gak akan ada sex di antara aku dan dia”.
“Gilaak”. Jawab Mini singkat, akupun langsung ketawa ngakak sambil terbahak-bahak.
Kuambil guling, berselimutkan angin malam dan kurebahkan kepala. Lalu, sebelum terpulas, aku masih sempat membayangkan liburan hebat kami pada pertengahan tahun kemarin.
Seranjang bertiga, dan aku di tengah-tengahnya.
@ Arie Gere, dalam kesendirian di tengah malam, menghidupkan laptop dan musiknya.
Guys, I’m so lucky to have you both.
Yeah, its’s been 9 years, guys.
Sahabat-sahabat jiwaku.
Teringat Si Butut, si Hijau dan si Hitam yang bersanding di parkiran.

Ditulis dalam no limit..
Komen yang seliweran!