UANG
Belilah sebuah apel dengan harga Rp3,000, kemudian jual dengan harga Rp2,000. Apa yang terjadi? Tentu saja, Rugi!.
Pertanyaan besar ketika harga minyak dunia meningkat dan harga minyak sawit dunia tercatat oleh Rotterdam pada level USD1,200/MT, ternyata masih ada di Indonesia ini, di negara tercinta ku ini, di Republik ini, minyak sawitnya di ekspor pada level USD435/MT!. Huh, bayangkan, ada apa dibalik semua ini????
Sejenak, terbayang bodohnya harga penjualan ini. Tetapi, lihatlah, kontraknya dibuat pada tahun 2006, sedangkan penjualannya direalisasi pada tahun 2008. Tentu saja, harga dibuat sesuai dengan harga minyak sawit pada tahun 2006.
Penetapan harga jual ini, yang jauh di bawah harga pasar, pasti bukan dibuat main-main. Ada harga yang yang harus dibayar di balik semua ini. Aku selalu berpendapat, para pemilik modal adalah salah satu penghuni kekal neraka jahanam. Mengapa? Jangan ditanya, salah satu jawabannya ditemukan di atas. Pemilik modal yang mengejar keuntungan keuntungan dan keuntungan dengan berkedok penjualan murahnya. Ada apa ini? Pihak-pihak yang terkait adalah pihak hubungan istimewa, melakukan transfer harga sesama afiliasinya. Ah lebih enak disebut konco. Wong sama saja, afiliasi itu kan konco. Barang yang dibuat, di olah, di kerok, oleh tenaga kerja Indonesia, bangsaku, saudara-saudaraku, dengan keringat darah nya, bekerja pagi, siang dan malam, kemudian barang yang sudah jadi dan molek tersebut seenaknya diekspor oleh pemilik modal kepada konco-konconya dengan harga yang murah. Kurang ajar! Bedebah! Konco-konco berwajah setan itu lantas memoles sedikit barang buatan negaraku dan kembali menjualnya ke Indonesia tentu saja dengan harga yang jauh lebih tinggi!. Pahit!Pahit!Pahit!. Meruginya salah satu anak usahanya di Indonesia, justru menguntungkan banyak pihak di afiliasinya di lain negara. Indonesia, tempat pilihan kambing hitam yang tepat. Tenaga kerja yang murah, bahan baku yang berkualitas, apa yang tidak bisa di peroleh di negara ku ini??? Tanam batu pun bisa jadi rumput. Tanam kayu apalagi, jadilah tanaman!. Yeah kerok saja, kuras semua sumber daya negaraku ini, sedot minyaknya, sedot!
Jadilah minyak goreng dengan harga selangit, mencekit leher-leher ibu yang harus memasak dengan budget seadanya. Jadilah pemberitaan merebak karena penjual gorengan menambahkan plastik dalam gorengan pisang, tahu, dan gorengan lainnya supaya hasilnya renyah dan berbunyi kriuk kriuk bila dimakan. Menyedihkan nasib bangsaku. Lantas, apa yang bisa kulakukan? Tidak ada jawabnya. Semoga Harga Patokan Ekspor buatan Mendagri bisa menyadarkan para pemilik modal yang nakal ini. Ah, tapi aku pesimis. Peraturan dibuat untuk dilanggar, kan? Bukan peraturannya yang diubah, tetapi mental masyarakatnya, mental manusianya.
Sesadar-sadarnya kita telah dibutakan oleh keinginan duniawi. Hasrat materi tak berkesudahan. Manusia di perbudak oleh uang. Dikejar-kejar karena kononnya disitulah letak kebahagiaan. Banyak uang, banyak perempuan, banyak setan, dan kepuasan. Uang, siapa yang tak tergiur melihatnya. Seperti aku melihat perempuan-perempuan cantik. Sehat, cantik dan siap menggodaku. Efek materi bisa mengubah cara berpikir seseorang, baik jadi jahat, jahat bisa menjadi tambah jahat. Uang, uang, lagi lagi uang.
”Sayang, kayaknya bulan depan makan kardus Indomie aja ya” kata Michiru.
”Ya udah, plastiknya juga gapapa deh. Ingat sayang, sedikit cukup, banyak terkadang kurang” kataku mengingat penghasilan yang semakin lama semakin tak bisa dikompromi sementara harga kebutuhan sudah semakin selangit.


Bicara soal duit alias uang, silahkan kunjungi dan join ke blog dunia internet di http://informasinetonline.blogspot.com. Semoga bermanfaat.
Tengs infonya ya bos
Sedikit cukup banyak terkadang kurang
Yes Arie..
hahahahha iya AL.. manusia gak pernah merasa cukup..
[...] UANG July 2008 4 comments 3 [...]