Dia, yang terkenang.
Kenanglah, bila kau mengingatnya.
Aku ingin mengenangnya, mengingat kenangan manis itu di dalam otakku. Harusnya, kubiarkan pergi saja, biar hilang semua gundahku. Tapi, semakin ditentang, justru sesaknya semakin dalam. Jadi ya gitccuuu deeh, di kenang aja, biar rada plong ^^.
Hari itu hari kedua, March 20, 2010. aku menginjakkan kaki ke kotanya.
Pukul 06.30 WIB
Aku terbangun dan bergegas masuk ke kamar mandi. Tujuanku cuma satu, untuk menghangatkan tubuhku yang rasanya mulai gak karuan, setengah panas setengah dingin. Kepala sedikit berat dengan suhu badan yang agak meningkat. Kupikir, mungkin kecapean, atau mungkin karna tidur yang tak lelap.
Pukul 07.30 WIB
Kuisi perut seadaanya. Bukan karena menu sarapan hotel yang tak menggiurkan lidah, tetapi ala sarapan pagi yang pas-pasan justru jauh lebih menggiurkanku. Untuk sarapan, aku hanya butuh nasi putih plus telur ceplok, atau nasi putih plus ikan goreng. Lain-lain, hanya membuat perutku mual dan tak karuan. Tetapi, mengingat kedatangan seseorang yang kutunggu-tunggu sebentar lagi, segera menghapus rasa mual yang ada. Mau tak mau, kucicipi juga makanan itu satu per satu.
Pukul 08.15 WIB
Kekenyangan, badan masih terasa lemas dan capek, akhirnya aku tertidur lagi di kamar itu. Kamar 315. AC kumatikan, aku tidur berselimut. Bahaya, badanku mulai gak bisa diajak kompromi. Sepertinya, badan itu benar-benar kecapean. Dan aku, terlelap begitu saja.
Pukul 09-an WIB
Telepon itu berdering. Nama yang kutunggu-tunggu datang, berdering nyaring membangunkanku.
‘’Halo’’ kataku.
‘’Abang tidur?’’ katanya.
‘’Ya, sudah dimana?’’ kataku.
‘’Baru mau jalan.’’ katanya.
Terpulas, aku tertidur lagi.
Pukul 11-an WIB
Telepon berdering lagi.
‘’Halo, sayang. Sudah dimana?’’ kataku masih dengan mata tertutup dan suara yang malas-malasan di ujung telepon.
‘’Masih di jalan’’ katanya.
TING TONG. Tiba-tiba, bel kamar berdering. Ah, ngapain juga si mas room-boy ngebel kamarku. Kan tadi udah dibersihkan? TING TONG TING TONG. Bel itu berbunyi lagi.
‘’Sebentar ya, nggak tahu nih siapa yang iseng bel kamar abang’’ kataku sambil beranjak malas dari tempatku, dan meraih gagang pintu dengan malas-malasan. Ya dasar aku memang pemalas, aku malas mengintip dari lubang pintu yang disediakan, jadi kubuka saja pintunya langsung tanpa intip-intipan.
Senyumnya merekah, sementara aku masih berdiri karena kejutan kamar di pagi hari. Secepat kilat aku langsung masuk ke kamar mandi, mencuci wajah kusutku karna malas-malasan yang gak menentu. Dia tersenyum lucu melihat tingkahku, mungkin terpingkal geli melihat keterkejutanku. Ahh, matanya, mata itu memandangku lagi, begitu hangat, begitu menghangatkan. Rasanya, aku seperti di pelet, hehehe. Kalau kau juga memandang lekat mata hangat itu, kau pasti mengerti bagaimana maksudku. Matanya, begitu memikat, dan memang, aku terpikat. Ada keteduhan di sana, yang bisa membuatmu berharap hujan terus-menerus turun, agar kau bisa berlindung di bawah teduhannya.
Aku masih ingat, kulitnya yang putih dan bersih terus melekat di ujung hidungku. Aku masih ingat, bagaimana rasa nyaman itu terus menderu kepakan hasrat yang terbang melayang. Aku masih ingat, ketika jemari yang kasar ini, membelai halus lapisan tubuhnya. Aku masih ingat, aku ternyata menyukai bagian perutnya, yang pernah meneduhkan makhluk sembilan bulan di dalamnya. Entahlah, aku merasakan, itulah bagian sakral di dalam tubuhnya, yang aku kagumi sampai sekarang, mungkin juga karena bentuknya atau mungkin karena fungsinya. Aku masih ingat, postur indah itu berdiri di hadapanku, begitu nyata, begitu mungil, begitu imut, begitu Yuni Shara deh pokoknya ^^. Aku masih ingat, ketika dia memutarkan tubuhnya sedemikian rupa, berusaha meraih agar posisi kepalanya berbanding terbalik dengan kepalaku. Aku masih ingat, menelanjangi matanya lewat padangan yang terbalik, lalu mengecup bibirnya perlahan-lahan. Terkadang, yang kucium malah dagunya, atau hidungnya dengan posisi terbalik. Aku masih ingat, ketika disentuhnya lembut bekas jahitan di bibirku, bekas luka yang penuh dengan cerita sedih. Aku masih ingat, ketika mengagumi satu persatu rambut putihnya, gambaran perempuan dewasa ini yang memikat hatiku, sosok perempuan tangguh dan matang. Aku masih ingat, bagaimana dia memanggilku, hingga membuat hatiku bergetar. Ahhhhhh.
Aku masih ingat, bagaimana dia pernah mencintaiku, bagaimana dia pernah menyayangiku.
Aku masih ingat, ternyata aku, masih mencintainya. Benar-benar mencintainya.
@ Arie Gere, April 29, 2010.
Aku tahu, dia bukan milikku.
Cup cup cup buaya, mukamu jelek kalau matamu basah.
Teman, kalau kau katakan itu bukan cinta, lalu apa?
People only judge by its cover, they really never know how it feels.


hmm .. terharu
menyentuh, rie.. existence seseorang br berasa yaa saat seseorang tsb jauh dr kita .. nice story!
“Aku masih ingat, bagaimana dia pernah mencintaiku, bagaimana dia pernah menyayangiku.
Aku masih ingat, ternyata aku, masih mencintainya. Benar-benar mencintainya.”
:jempol::jempol::jempol:
hiks… hiks… ceritanya bagus…
aku senang. abang bisa punya tempat untuk diri abang sendiri. abang, aku juga pengen ikutan nangis…
hiks.
mengenang nan lalu indah namun menyakitkan…
kani ku suka baca rulisan arie setelah aq rekomendasikan blognya arie…
salam kenal
gak pernah bisa lupain tulisan ini..heran.
[...] Dia, yang terkenang. April 2010 6 comments 5 [...]